Pisang Saba

Belakangan ini saya sedang menikmati lagi kegiatan berkebun di halaman rumah. Sejak pindah ke rumah ini hampir 20 tahun lalu, saya kerap melakukan eksperimen dengan tanaman di halaman. Ada masa halaman 4 x 14 meter ini dipenuhi tanaman buah. Mangga, papaya, belimbing, sawo, jambu air, dan pisang. Pisang andalan. Pisang saba.

pisangsaba2tandan

Dua pohon dua tandan pisang saba

 

Bibit pisang kami bawa khusus dari Cirebon sebelum kami punya rumah ini. Rumah lama halamannya pas-pasan. Padahal kami membawa 4 anakan pisang saat itu, sambil takt ahu mau ditanam di mana. Akhirnya pohon kami titip-titipkan ke saudara.

Ketika kemudian kami bisa punya rumah berhalaman, langkah pertama adalah melacak, di mana pohon pisang masih ada. Ternyata sepupu saya di Bogor Baru yang masih menjaga keberadaan pohon pisang ini. Entah saat itu sudah turunan ke berapa. Saya meminta satu anakannya untuk ditanam di rumah baru kami.

 

Dari satu, pohon pisang ini beranak dan bercucu. Panen pertama buahnya besar-besar. Senang sekali melihatnya. Panen-panen berikutnya makin mengecil. Mungkin karena ketersediaan unsur hara berkurang. Akhirnya, pisang pun dihabisi setelah beberapa generasi. Selain berkurangnya kualitas buah, saat itu kami merasa banyaknya nyamuk efek tak langsung dari keberadaan pohon pisang.

 

Tahun-tahun berlalu. Sampai suatu masa saya kangen punya pohon pisang lagi. Saya tanya sepupu lagi. Bersyukur dia masih punya. Jadi, saya pesan anakannya. Senangnya ketika dikabari anakan pisang sudah ada. Tak menunggu lama, saya ambil dari kantor sepupu, dan ditanam di lokasi leluhurnya dulu.

 

Pohon pisang tidak saya urus khusus, tetapi buahnya selalu dinanti. Curang ya? Tak apa-apalah, karena pisang adalah jenis pohon yang tidak manja. Hanya untuk jenis pisang saba ini, perlu waktu lebih lama sampai buah matang. Butuh kesabaran tinggi dari mulai senang hati melihat jantung keluar, sampai ke panen raya.

Pisang saba bukan jenis pisang untuk dimakan langsung. Bentuknya mirip pisang kapok. Satu saja beda yang utama, jika dikukus. Pisang kapok setelah dikukus biasanya menjadi lembek. Sedangkan pisang saba, jika dikukus akan menjadi “peungkeur” kalua kata orang Sunda. Apa ya Bahasa Indonesianya? Semacam kenyal gitulah.

 

Kadang saya mesti berdebat dengan teman tentang jenis pisang ini. Melihat bentuknya, biasanya orang akan llangsung berkata, ini pisang kapok dan saya, biasanya akan langsung tidak terima. Bagi saya, dua jenis pisang ini beda. Terutama hasil dari dikukus tadi. Satu hal yang menyenangkan, ketika dulu saya bawa pisang kukus ke kampus tempat mengajar, ada sejawat dari bali yang langsung komentar, “Ini pisang saba.” Senangnya ada orang yang mengenali. Rupanya, di Bali juga sama disebutnya pisang saba.

 

Pengolahan paling praktis pisang saba memang dikukus. Tetapi sebenarnya banyak cara lain mengolah pisang ini. Ada dua hal paling khas yang belum saya temukan di daerah lain. Pertama, dibakar. Pisang bakar banyak, tetapi gaya cirebonan beda. Setelah dibakar sekilas, pisang dibelah dua memanjang tapi tak sampai putus. Diolesi mentega. Kemudian berturut-turut ditaburi gula pasir kacang tanah sangrai, dicacah, meses, dan ditutup dengan susu kental manis. Di Cirebonnya sendiri tak mudah menemukan pisang olahan seperti ini. Sejauh ini saya baru menemukan di Jl. Lemahwungkuk, di deretan penjual kaki lima, malam hari.

 

Kedua, dibuat kolak. Tampilan khas kolaknya adalah, pisang seperti dilumuri gula merah. Jadi, saat membuat kolak, awali dengan mendidihkan sedikit air dengan gula merah. Setelah rumamat, yaitu mendidih, berbuih, dan kental, masukkan pisang utuh. Ini akan menjadi kolak pisang kental. Saat akan dimakan, baru santan kental dituang.

 

Cara lain yang juga sederhana tapi enak adalah pisang digoreng, kemudian digepengkan. Setelah dingin, ditaburi gula bubuk.

 

Ah, bercerita tentang mengolah pisang saba membuat tak sabar menanti dua tandan yang saat ini sedang menunggu matang.

Menunggu pisang saba matang juga punya cerita sendiri. Sudah saya sampaikan tadi, pisang ini butuh waktu lama dari tahap menjadi buah sampai matang. Karenanya dapat dibayangkan apa yang saya rasakan ketika di awal penanaman kedua kali ini, saya kehilangan dua kali panen. Yang pertama, saya tak tahu pisang sedang berbuah. Sore itu Bogor hujan deras disertai angin kencang. Pohon pisang terbesar tumbang ke arah luar pagar. Ketika esoknya minta tolong tukang untuk membersihkan bangkai pohon, baru saya tahu, ternyata si pohon sedang berbuah. Sudah besar-besar, tapi belum cukup umur untuk diolah. Rupanya, si buah menjuntai ke arah luar pagar, sehingga dari dalam rumah tak tampak apa-apa.

pisangtumbang

Pisang tumbang

penyangga dan lubang sampah

Penyanggaan pohon pisang yang sedang berbuah

 

 

Musim berbuah berikutnya, terjadi kehilangan lagi. Tumbang lagi. Kali ini, saya tahu pohon sedang berbuah. Dan, kesal pada diri sendiri, karena tidak belajar dari pengalaman. Pohon pisang itu batangnya lunak, sedangkan buahnya bersisir-sisir itu berat. Di sisi lain, hujan angina di Bogor memang ganas.

 

Sejak peristiwa tumbang yang kedua, saya selalu memasang kayu penyangga saat pohon mulai berbuah.

 

Pengalaman lain, berkaitan dengan biji pisang. Selama ini, yang saya tahu berbiji adalah pisang batu. Kala itu, seperti biasa, jika melihat sudah ada pisang yang menguning di pohon 1-2 buah, saya akan minta tolong tukang untuk memanen. Setelah ada beberapa pisang lain menguning, saya kukus. Saya makan pisang yang kuning di pohon. Teryata…berbiji! Baru sekali itu menemukan pisang saba berbiji. Menyesal juga tahunya setelah dikukus. Andai masih segar, kan bisa saya coba tanam bijinya. Selala ini, membiakkan pisang kan selalu dari anakan. Sejak itu, buah yang matang pertama selalu saya bongkar. Siapa tahu menemukan biji lagi. Sampai hari in, belum terulang keberadaan sang biji di pisang saba.

 

anak2pisangmei2017

Anak-anak Pisang

Pohon pisang ini sekarang sudah menyebar. Bermula dari satu batang, beranak 1 atau 2. Generasi berikutnya, setiap pohon akan beranak 1 sampai 3. Padahal pojok halaman tempat pisang ini ditanam hanya selebar 4 meter. Jadilah symbiosis mutualisma. Saya tawarkan kepada saudara atau teman yang mau menanam pisang saba. Sekarang sepupu-sepupu pohon saya sudah membuat koloni sendiri di halaman adik dan kebun sahabat saya di Bogor. Bahkan ada juga anakan yang sudah merantau ke Jakarta, Bekasi, dan Bandung. Pisang sabanya saba kota (jalan-jalan ke kota), hehe.

 

Pisang saba ini kini menjadi legendaris. Karena tempat asalnya, rumah pak Sumarto, satu-satunya tetangga satu halaman dulu saat di Cirebon, sudah berpindah tangan dan menjadi bangunan. Bahkan, di pasar di Cirebonnya sendiri, sudah susah mendapatkan pisang saba. Entah lahan perkebunannya yang berkurang, atau petani lebih suka menanam jenis pisang lain yang lebih cepat matang dan menghasilkan rupiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s