Suka Duka Berkebun Sayuran di Halaman

20170530_072516-1_resized

Bunga Mentimun

Berkebun di halaman rumah memberi keasyikan tersendiri. Saya menanam aneka tanaman sayur, mulai dari benih atau biji. Disinilah serunya. Menanam dari biji bukan sesuatu yang sederhana, ternyata. Banyak trik dan tips yang harus dipelajari. Dan, saya menikmatinya.

 

Seperti yang pernah saya ceritakan, rencana berkebun cabe saja menjadi batal karena ternyata rentan masalah. 25 tanaman cabe saya berbuah tetapi semua tidak ada yang menjadi matang. Hama lalat buah membuat cabe membusuk saat menjelang tahap matang. Sedih dan gemas. Saya berselancar di internet, mencari tahu tentang hama pohon cabe. Daaan… saya pun menjadi paham mengapa kadang harga cabe bisa tiba-tiba mahal. Gagal panen. Hama dan penyakit tanaman cabe, ada puluhan! Jika gagal mendeteksi di awal, sangat mungkin kejadian hama bergerak serentak dan menyebar. Habislah satu kebun. Kebayang kan derita para petani cabe? Saya yang hanya punya 25 pohon saja sedih sekali dan tak berdaya menghadapi 1 macam hama saja. Apalagi mereka yang kebunnya luas.

 

Panen pertama cabe di halaman saya dilakukan dengan paksa. Mumpung cabenya masih bisa dimakan, masih mulus. Setelah terindikasi ada beberapa buah yang terinfeksi, tak ada jaminan sisanya masih bagus. Jadi, putus rantai siklus hidup lalat buah dengan membuang semua telurnya dan potensi dimana telur lalat berada. Dalam hal ini, di dalam buah cabe yang sedang berproses menuju matang.

 

Setelah memanen paksa cabe muda sampai 2 kali masa panen, saya juga membuat perangkap lalat. Ada yang berbentuk lem yang dioleskan ke botol bekas air mineral yang dicat bagian dalamnya, ada pula yang berbentuk perangkap lalat jantan. Selain itu, seminggu 1-2 kali saya semprot dengan pestisida organik dari serai. Saat ini pohon-pohon cabe saya sedang berbuah lebat dan gendut-gendut. Semoga semua bertahan sampai matang dan bisa panen dengan sukses.

 

Sementara itu, saya juga mulai menyemaikan benih-benih tanaman lain sebagai penyeimbang habitat. Hama cabe kemarin terjadi karena habitat di halaman saya dominan cabe. Tidak seimbang. Perlu ada tanaman-tanaman lain yang saling menjaga. Hama tanaman yang satu akan dikurangi keberadaannya oleh tanaman lain. Pun sebaliknya. Jadi yang diharapkan adalah terjaganya habitat dengan seimbang. Tak apa ada hama, tapi dalam jumlah yang wajar. Keberadaan hama itu sendiri tetap dibutuhkan untuk keseimbangan ekosistem halaman rumah saya.

 

Salah satu benih yang saya semai adalah benih timun suri. Saat itu, dua bulananlah menjelang Ramadhan. Dari yang saya baca, dalam dua bulan, timun suri sudah bisa panen. Pas kan? Saat Ramadhan buka dengan timun suri dari halaman.

Dari beberapa biji yang saya semaikan, ada 2 yang tumbuh paling sehat. Subur. Senaaang sekali melihatnya. Apalagi ketika sulurnya mulai keluar dan melingkar-lingkar. Pemandangan tercantik. Apalagi melihatnya tumbuh dari hari ke hari, dari biji, berkecambah, tumbuh 1-2 helai daun, keluar daun sejati, ada sulur. Keren. Sampai saya pikir sudah tiba saatnya memindahkan tanaman muda ini ke tanah, ke lokasi tanamnya.

TimunSuriAlm

Bayi cantik ini kini sudah almarhum.

Lahannya sudah saya siapkan. Sudah digali sekitar kedalaman 30 cm beberapa minggu sebelumnya. Sudah dituangi media tanam juga. Di atasnya besi rambatan sudah siap. Semula, rambatan ini dipakai oleh pohon anggur. Tapi kemudian setelah beberapa tahun, saya ingin mengganti dengan tanaman yang sering dipanen dan dimakan. Kebetulan, anggurnya tipe kecil hitam, beda dengan yang saya bayangkan saat menanam. Maklumlah, pohon anggurnya saya beli di pasar. Terlalu senang menemuan pohon anggur, saya tidak berpikir untuk bertanya-tanya lebih jauh anggur seperti apa ini. Toh saya juga butuhnya daun anggur untuk membuat masakan. Sempat beberapa kali saya buat masakan Turki, nasi yang dibungkus daun anggur. Tapi kan jarang. Saya ingin besi rambatan ini lebih produktif selain sebagai peneduh, fungsi terbanyak dari pohon anggur saya.

Tibalah saat itu. Saya pindahkan kedua anakan timun suri yang cantik berseri ini. Saya tanam di dua lubang pertama. Dan saya pasangkan tali kompor yang digantung sebagai tempat merambatnya sebelum sampai ke besi-besi di atas. Hari ini saya tanam, esok harinya hujan angin deras. Timun suri saya rebah dan mati membusuk terendam air hujan. Saya baru melihat keesokan harinya, ketika sudah tidak bisa dilakkukan apa-apa lagi. Saat hujan itu, sama sekali tidak terpikir bahwa tanaman ini belum cukup kokoh untuk bertahan dari angin, dan bahwa lokasinya terendah dibanding sekitarnya, sehingga air menggenang. Sedih.

 

Di sisi lain saya sedang menyemaikan benih mentimun juga. Ada dua, yang satu subur, yang satu lagi lebih lambat. Berdasar pengalaman dengan timun suri, saya tak buru-buru memindahkan. Saya lebih mempersiapkan juga teknis pemindahannya. Tanaman harus ditanam di atas tanah sekitarnya, tidak seperti sebelumnya, saya tanam ke dalam lubang, sejajar dengan permukaan tanah sekitar. Saya juga membeli batu-batu hias ukuran 5 (besar) untuk menjadi pagar penahan gundukan tanah ini.

Mentimun pun saya pindahkan satu demi satu. Diberi tanah tambahan agar lebih tinggi dari sekitar. Dan saya kelilingi dengan batu hias agar selain cantik juga gundukan tanahnya tertahan. Setelah itu semua, saya bungkus tanaman muda ini dengan plastik besar yang dikelilingkan berbentuk kerucut di atas tanaman dan diikatkan ke tali yang tergantung. Saya harap, perlindungan ini cukup untuk menjaga tanaman kecil ini dari hujan angin yang kadang datang begitu saja di Bogor ini.

Saya lupa sudah berapa minggu. Saat itu belum terpikir untuk membuat catatan khusus tentang aktivitas berkebun saya. Tanaman mentimun ini sudah semakin tinggi. Setiap hari saya sapa. Jika terlihat ujung atasnya sudah menyentuh bungkus plastik, maka ikatan plastik akan saya tarik ke atas. Saat ini, bagian bawah pohon sudah tidak terlindungi plastik, tetapi terlihat batang sudah cukup kokoh untuk mandiri.

Saat tinggi pohon masih sekitar 50cm, saya lihat sudah keluar bunga calon buah di ketiak daunnya. Tentu saja saya senang, proses bertanam ini mulai memperlihatkan hasil. Tetapi, saya juga merasa ini pohon masih bayi, kasihan kalau sudah harus menyuplai gizi untuk buah. Jadi, saya buang dulu bakal buahnya. Ada 2 kali saya petik bakal buah. Saya harap, tanaman fokus ke pertumbuhannya saja dulu. Sekarang tinggi pohon sudah hampir 1 meter. Bunga yang muncul di ketiak daun berikutnya, saya biarkan. Sempat saya lihat ada 3 buah. Tapi tadi pagi saya lihat satu gugur. Tinggal 2.

Tanaman mentimun kedua, yang tak sesubur kakaknya, sekarang sudah disapih juga. Sudah di tanah. Tinggi masih sekitar 40 cm. Dan, sama seperti kakaknya dulu, sudah mulai berbunga. Kali ini saya biarkan. Ingin tahu seperti apa beda pertumbuhannya. Tetapi, pagi tadi saya lihat bunganya rontok. Mungkin memang belum cukup umur untuk berbuah.

Selain itu, saya lihat daun terbawah tanaman kedua ini nyaris habis. Duh, siapa pula yang makan? Saya curiga ada semacam ulat, karena daunnya berpola tertentu, beda dengan daun lain yang sehat. Saya belum sempat mencari tahu informasi/bacaan tentang ini. Tapi, saya lihat juga ada kepik dan serangga lain di daun-daunnya. Antara ingin berbagi makanan dengan hewan-hewan kecil ini, dengan khawatir keberadaan mereka akan mengganggu pertumbuhan tanaman saya. Sampai siang ini, saya belum ambil tindakan khusus selain tadi menjentik pergi kepik yang hinggap.

 

Tanaman kacang panjang bikin cerita lain lagi. Untuk kacang panjang, saya memanfaatkan ajir batangan yang saya ikat tiga-tiga. Karena ada banyak anakan kacang panjang, saya pakai dua ajir kaki tiga. Di setiap kaki, saya tanam satu batang pohon kacang panjang. 3 pohon pertama, kacang panjang biasa. Tiga pohon kedua, kacang panjang merah. Kebetulan pas. Rasanya puas sekali menanam mereka dengan sukses. Agar tak rebah diterpa angina, pengamanan yang saya lakukan adalah mengikat batang pohon secara longgar ke ajir dengan menggunakan kawat kecil. Saya posisikan kawat sedemikian sehingga walau tidak diikat erat, dia tidak akan menggelosor ke bawah.

Esok harinya, pagi siang sore saya lihat, dan senang sekali melihat tanaman tetap segar. Berarti saat pemindahan perakarannya tidak terganggu. Sore itu saya tinggalkan rumah dengan hati bahagia meninggalkan anak-anak pohon yang segar di tempat merdeka mereka, di tanah, tak lagi di pot.

Jam 21-an saya pulang, dan saya intip lagi tanaman kacang panjang dari mobil. Agak remang-remang di situ. Betapa terkejutnya, beberapa tanaman saya tidak ada! Jadi, saya dekati untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata saudara-saudara… ada sekeluarga bekicot sedang pesta pora. Induk, ayah, dan anak-anaknya. Mungkin juga bawa sepupu dan keponakan. Tiga tanaman sudah di posisi habis. Tinggal pangkal batang yang tertanam di tanah. Kesal dan marah dong, pulang ke rumah ingin mencari hiburan dengan memandang tanaman-tanaman, yang ditemui malah seperti ini.

Saya langsung ke dapur mengambil garam. Saya taburi semua dengan garam. kalau hanya 1-2, biasanya saya angkat dan lempar. Tapi ini banyak. Hiii, geli lihatnya juga. Sebagian masih bayi-bayi. Setelah itu, di dalam rumah, baru agak menyesal. Bagi ortu bekicot, yang mereka lakukan kan menafkahi keluarganya. Tapi boleh kan saya minta empati sedikit atas kekesalan saya ini, hehe.

Malam itu saya mencari info tentang hama bekicot. Rupanya, mereka memang pemakan daun dan batang muda! Pantas saja. Saya seperti menyajikan menu istimewa untuk keluarga mereka. Saya jadi berpikir, mungkin sedikit tambahan perlakuan saat memindahkan tanaman muda ke tanah, bisa mengatasi hama bekicot ini. Yang terbayang, saya akan memasang pagar kawat setinggi 25 cm mengelilingi tiap tanaman. Kemudian saya lilitkan tali ijuk 1 atau 2 kali di sekeliling pagar ini. Mudah-mudahan dengan demikian, bekicot tidak bisa menjangkau tanaman. Mereka kan tidak suka dengan kasarnya permukaan tali ijuk. Sampai sekarang belum terlaksana sih. Belum sempat beredar untuk mencari penjual tali ijuk dan kawat pagar.

 

Tantangan belum usai. Di bagian luar halaman, ada sekitar 50 cm lebar lahan antara jalan dengan selokan. Saya sedang menanam pohon bunga matahari di sana. Ada 5 batang. Lahan ini tadinya rumput gajah yang sengaja ditanam. Tapi sekarang menjadi mengganggu dan pula sudah banyak rumput liar lain yang ikut tumbuh. Hari minggu lalu saya coba potong rumput pakai gunting potong. Baru lho, hehe. Untuk keperluan ini. Biasanya, saya minta tolong orang untuk memotong rumput. Dia minta temannya lagi, memotong dengan alat mesin. Nah, pakai mesin potong kan riskan untuk pohon saya yang masih kecil. Makanya saya beli gunting potong sendiri untuk memotong rumput di tempat-tempat terpencil seperti ini.

Sepanjang sekitar 8 meter sudah saya guntingi rumputnya. Dan berdasarkan ilmu dari tukang kebun, potongan rumputnya tidak saya buang, tapi saya tumpukkan di atas wilayah itu. Katanya, agar menjadi panas dan rumput liarpun tak tumbuh lagi. Setelah babak pertama seluruh wilayah usai saya potong, saya bergerak mundur lagi sambil meratakan yang belum rapi. Disinilah petaka itu terjadi. Saya tekan gunting dengan semangat, dan saat sesuatu tumbang, saya baru sadar. Satu pohon bunga matahari yang baru setinggi sekitar 20 cm terpangkas! Kaget sendiri, sedih sendiri, menyesal sendiri. Duh, proses membesarkannya dari biji kan butuh waktu. Saat sudah tumbuh mulai cantik begini, kok saya tebang sendiri. Hiks.

 

Sementara, itu sebagian kisah sedih saat berkebun.

Dan, sebagaimana hidup. Setelah duka, biasanya ada tawa.

Tadi pagi melihat kembang bakal buah timun yang masih tersisa dua saja, sudah membuat bahagia. Proses ini ada hasilnya. Demikian juga dengan bunga matahari. Dua hari ini saya lihat pertumbuhan 4 pohon lainnya pesat. Batang bekas tergunting belum saya buang. Siapa tahu masih bisa tumbuh lagi pohonnya. Tanaman kacang panjang yang tersisa 2, sudah tumbuh dengan subur. Rambatannya sudah mendekati ikatan ajir

Tanaman-tanaman lain yan saya semaikan dari biji juga, mulai banyak yang jadi. Zuchinni tumbuh semua 5 biji dan subur semua. Pesat sekali perkembangannya.

Pohon tomat, pemberian ajir lingkaran menjadi patokan, bahwa dari waktu ke waktu pohon ini meninggi dan membesar.

Pohon mint, daun-daunnya tumbuh subur dan segar. Aromanya tercium jika kita melewati pohon ini.

Cabe rawit saya ukurannya besar-besar sekali. Entah ini dari jenis apa, kan waktu itu benihnya tercampur-campur.

Pemandangan tercantik pagi ini… stroberi dan jeruk lemonku tumbuh! Saya lupa persisnya kapan, sekitar sebulan lebih rasanya, saya ambil biji stroberi dari buah stroberi di kulkas yang saya beli dari supermarket. Setelah dicuci, saya tabur di sebuah pot. Dan dibiarkan begitu saja di depan teras.

Nyaris saja saya ganti isi pot dengan tanaman lain yang masih muda dan butuh ruang. Untungnya belum saya lakukan, karena ternyata biji yang ditabur ini tumbuh. Alhamdulillah.

Tak sabar menanti hari-hari yang akan datang. Akan seperti apakah tanaman-tanaman di kebun saya ini…

IMG-20170120-WA0029

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s