Panen Pupuk dari Biopori

20170604_143512_resized

Sebagian kompos dari dalam biopori

Saya sedang senang. Baru saja “panen tanaman biopori”.

Biopori kok dipanen, haha. Biopori itu lubang dengan diameter 10 cm sedalam 1 meter. Menggalinya menggunakan alat khusus, sehingga kita bisa mendapatkan lubang silinder memanjang ukuran itu dengan mudah dan rapi.

Panen tanaman biopori? Ini juga makna harfiah. Sehari-hari kan saya memang menanam sampah disitu. Sisa-sisa makanan olahan dan sampah dapur hewani.

Jadi selain  biopori, saya mempunyai satu lubang besar ukuran sekitar 1x1x1 m3. Lubang terbuka. Sedangkan biopori, di atasnya saya beri penutup. Dua macam lubang ini isinya berbeda.

Segala sampah nabati yang belum terkena api, saya buang ke lubang besar. Sedangkan sampah organik sisanya, sampah hewani mentah dan sampah dari makanan yang dimasak, saya tanam di lubang biopori.

Mengapa demikian pembagiannya? Pada dasarnya, saya ingin memanfaatkan sampah tapi ingin praktis, dan tidak mau ada bau-bauan atau serangga banyak berkeliaran, khususnya lalat. Sampah dari kulit buah atau sisa sayuran mentah akan membusuk tanpa aroma mengganggu.

Dulu, saya hanya menggunakan lubang besar terbuka itu untuk membuang sampah segar. Sampah organik sisanya saya setor ke tukang sampah untuk dibawa ke TPS.

Sekitar 2 tahunan lalu saya mendapat pencerahan tentang upaya menuju Zero Waste. Pada saat itu yang disarankan untuk dilakukan adalah membuat lubang biopori dan atau Takakura. Takakura adalah wadah seukuran keranjang yang kita sulap menjadi pembuat kompos. Sampah organik apapun dimanfaatkan dengan menggunakan dua  cara tersebut, tanpa membedakan jenis organiknya.

tutup biopori

Memasukkan sampah ke dalam biopori.

alatmenggalibiopori

Membuat lubang biopori. Putar alat ke kanan, menggali. Putar ke kiri, mengeluarkan tanah.

20170604_144109-1_resized

Tutup Biopori.

Saya mencoba menerapkan hasil pertemuan itu dengan sedikit modifikasi. Sampah yang saya tanam ke biopori hanya sampah organik yang pernah disentuh panas api. Biopori menjadi jalan keluar untuk memanfaatkan sampah organik dari rumah secara penuh. Sampah organik yagn belum kena api kan sudah lebih dulu punya tempat pembuangan.

20170604_143716_resized

Lubang sampah segar.

Saya mengajarkan pada asisten di rumah untuk selalu menabur sedikit tanah setelah sampah-sampah dimasukkan ke lubang biopori, baru kemudian menutupnya. Tujuan saya, agar saat membuang sampah berikutnya, kita tidak terganggu oleh bau dan pemandangan ajaib dari sampah sebelumnya yang sudah mulai membusuk. Ternyata, langkah ini secara teori malah justru membantu mempercepat proses penghancuran sisa-sisa makanan itu menjadi tanah.

20170604_134435_resized(1)

alat gali biopori

Satu lubang tentu tidak bisa diandalkan untuk membuang sampah. Apalagi proses penghancuran butuh waktu sekitar 3 bulan. Jadi, lubang yang telah penuh sampah baru akan bisa dipakai lagi setidaknya 3 bulan kemudian. Sementara, sampah rumah pasti sudah jauh lebih banyak dari daya tampung satu biopori.

Untuk itu, saya membuat lebih dari satu lubang. Sebenarnya, 3 lubang cukup. Jika satu lubang sudah penuh, lubang satu lagi mulai diisi. Nanti setelah semua penuh, kembali ke lubang pertama. Tetapi, saya memilih menambah lubang baru. Agar semakin lama semakin banyak bagian dari halaman saya yang gembur.

Sama seperti lubang besar. Saat ini sudah menggunakan lubang ketiga. Dua lubang sebelumnya setelah penuh ditutup saja. satu tempat sudah digali untuk nantinya dipakai sebagai sumur pompa. Satu tempat lagi, sekarang menjadi tempat tumbuh pohon pisang. Sungguh saya penasaran dengan hasil akhir pisang ini. Berharap sih, buahnya lebih besar dari biasanya. Karena tanah tempat tumbuhnya penuh kompos.

Biasanya, setelah jangka waktu tertentu, biopori yang penuh ini mempunyai ruang lagi untuk diisi. Terbayang kan, semula isinya tulang, daun bungkus pepes, kulit telur, dll. tentu ada ruang di antara benda-benda itu. Setelah semua hancur, maka permukaan lubang akan menurun karena sekarang ruang-ruang kosong di dalamnya jadi terisi hancuran sampah.

Pada awalnya, secara berkala, jika sedang ada pemotong rumput, saya suka minta dibuatkan 3 lubang biopori. Sampai total ada sekitar 9-10 lubang. Selama ini, bibi di rumah selalu pindah-pindah lokasi biopori untuk membuang sampah. Penuh yang satu, cek lubang yang lain, lalu isi.

Kemarin, dia bilang, lubang terakhir penuh, dan lubang-lubang lain gak turun permukaannya. Tetap penuh. Dia tampaknya merasa aneh, karena selama ini selalu ada penurunan permukaan di lubang lama.

Saya katakan, itu artinya, lubang tersebut benar-benar sudah maksimal diisi. Dan kemungkinan besar, semua sudah berbentuk tanah kompos. Jadi tinggal dikeluarkan saja. menggunakan alat gali biopori. Tapi, akan lebih mudah dari membuat lubang baru. Sebetulnya kan ini hanya proses mengeluarkan kompos dari sebuah lubang yang telah terbentuk. Tanahnya sisihkan. Tabur merata ke pohon-pohon cabe di sepanjang pagar.

 

Jadilah bibi melakukan itu semua. Kami pun panen tanaman biopori. Panen kompos dari sampah organik yang ditanam di lubang biopori.

Semoga menjadi suplemen gizi yang baik bagi tanaman-tanaman di pagar kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s