Tasbih Tanaman di Bulan Ramadan

KITA sajakah, manusia, yang meningkatkan ibadah di bulan Ramadan? Ternyata, tidak. Tahun ini saya menemukan -karena memang baru kali ini memperhatikan- bahwa tanaman-tanaman pun lebih memberi bakti selama di bulan suci.

 

Semula saya sempat agak panik, terlambat memperhitungkan kehadiran Ramadan. Telanjur menyemaikan benih. Dan banyak. Sehingga saya harus tetap meluangkan waktu merawat bayi-bayi ini. Untuk menyiasatinya, sambil menyiram atau memindahkan bibit dari baki-semai ke polybag, sedapat mungkin saya lantunkan wirid sederhana dalam hati. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, allahu akbar.

Sejak tahun 2017 ini, saya melakukan beberapa kali penyemaian, dengan aneka media, cara, dan wadah.. Awalnya beberapa, kemudian satu baki, lalu di polybag kecil-kecil. Tingkat keberhasiannya rendah. Bahkan saat menyemai di polybag itu, 100% tak ada yang tumbuh. Sedih dan penasaran sekali. Apa yang salah? Rasanya, saya sudah memilih benih yang baik, media tanam yang baik, penyinaran, penyiraman, dan lain-lain. Saya pun menonton dan membaca aneka tips berkebun.

Makanya, ketika menyemaikan yang terakhir, saya  sebar agak banyak. Toh yang tumbuh juga biasanya sedikit. Media tanam saya ganti dengan media tanam khusus persemaian. Saya menyemaikan 5 tray sekaligus kali ini. Dan mencoba lebih akurat. Jadi, saya catat apa saja dan berapa banyak benih yang saya semaikan. Saya buatkan file di Excel, kemudian dicetak. Ada 5 tabel dengan segala informasi yang kemudian ditambahkan, seperti kapan mulai pecah biji, berapa yang tumbuh, tinggi berapa senti, kapan dipindah ke polybag. Kata suami saya, begitu ya kalau mathematician berkebun…

Ternyata… biji-biji yang ditanam kali ini baik hati dan tidak sombong. Nyaris semua tumbuh! Alhamdulillah. Senangnyaaa…

Saya mulai berpikir, apakah ada kaitan antara wirid dan pertumbuhan tanaman? Saya yakin ada, walau entah relasinya seperti apa. Karena itu, semakin hari saya semakin semangat berkebun, sambil juga berusaha meningkatkan porsi mengingat-Nya dalam setiap tindakan di kebun. Kadang-kadang, saya putar CD Asmaul Husna dari balik jendela. Rak baki-semai ada di bagian luarnya. Sambil berharap ada sedikit imbas. Bagaimanapun bentuknya.

Kini, sebulan berlalu. Besok lebaran. Tanaman-tanaman mulai memenuhi halaman.

4 pohon zukini baru saja kemarin saya pindahkan ke-4 kalinya. Dari baki-semai ke polybag, kemudian ke pot diameter 10-an cm, lalu ke pot diameter 20-an, dan kemarin langsung saya pindahkan ke yang diameter 40 cm. Agak telat, karena malas ke luar rumah untuk membeli pot. Selama Ramadan ini, jalanan padat hampir sepanjang hari. Sementara penjual pot dengan banyak pilihan dan harga murah ada di ujung lain kota ini.

Aneka cabe di polybag mulai berdaun beberapa buah tiap pohonnya. Ada 1-2 yang mati setelah dipindah dari baki-semai. Secara umum, mereka tumbuh subur.

Aneka sawi dan selada, mulai keluar daun sejati. Agak lambat, jika mendengar cerita para petani bahwa sawi selada ini tanaman cepat. 30-an hari setelah tanam sudah bisa panen. Sementara tanaman saya sampai hari ini masih sangat kecil, baru 4 daun. Mungkin karena di awal hidupnya, mereka mengalami etiolasi. Batang yang memanjang, karena cahaya kurang. Bagian belakang rumah saya ternyata tak cukup cahaya kalau untuk tanaman. Tapi, tidak saya pindahkan ke depan saja raknya, sehingga yang terjadi adalah etiolasi.  Semua kena etiolasi, tapi dampaknya paling telihat pada sawi selada. Saya yang salah, tidak cepat tanggap.

Bayam dan kangkung.  Memindahkan mereka ke pot adalah sangat sesuatu banget. Haha. Banyaaak… Pelajaran pentingnya, jangan pernah menyemaikan tanaman sejenis bayam atau kangkung! Karena sekali menanam mereka, jumlahnya tak hanya satu dua, tapi ratusan. Hampir 3 jam saya habiskan untuk memindahkan mereka. Tapi hasilnya hari ini memang luar biasa, keren. Begitupun, saya bertekad, tak akan pernah lagi menanam bayam dan kangkung melalui persemaian khusus. Biarkan langsung disebar bijinya di lahan tanam yang tak perlu dipindah-pindahkan. Di tempat tumbuh bayam dan kangkung saya sekarang, setiap 2 minggu saya sebarkan lagi biji-biji baru. Agar nanti panennya bisa berlanjut terus-menerus selama 1-2 bulan.

Kacang panjang, sudah sangat memanjang pohon-pohonnya. Saya merasa bersalah. Mereka sudah waktunya berada di tanah, agar pertumbuhannya lebih cepat. Tetapi, lahannya belum siap. Kemarin baru tuntas memasang raised pillow ( in term of raised bed, tapi saya buat kecil-kecil untuk kebutuhan 1 tanaman saja  😊). Kemudian tanahnya habis, jadi belum bisa diisi media tanam. Akibatnya, pohon-pohon kacang panjang pun masih harus menunggu. Saat ini saya sedang menghubungi calo untuk mencarikan tanah. 5 saja. Susah juga nyari tanah sehari sebelum lebaran seperti ini. *bahasanyaaa…haha, jangan tertipu ya. Ini nyari tanah bukan 5 hektar, tapi 5 karung. Melalui teman saya yang biasa menjual pupuk kascing.

Tanaman-tanaman lain antri untuk dipindahkan. Pot-pot kecil sekarang berisi kacang panjang. Potnya nanti akan dipakai untuk memindahkan cabe dari polybag. Berantai. Tahapannya kan seperti itu. Dari lahan semai, dipindahkan ke wadah yang lebih besar. Setelah tingginya 1,5 kali tinggi wadah, atau lebar tajuknya sudah melampai lebar permukaan wadah, tanaman dipindah lagi ke tempat yang lebih besar. Demikian seterusnya. Tujuannya, agar tanaman tidak tersiksa pada tempat yang sempit. Ketika tajuk tanaman sudah lebih lebar dari pot, biasanya saat kita pindahkan, akar sudah memenuhi ruang-ruang tanah di dalam pot. Artinya, dia tidak leluasa bernafas disitu. Begitu kita pindahkan, tak perlu menunggu seminggu untuk melihat tanaman tiba-tiba membesar dengan cepat. Saya bayangkan seperti kita ngulet sambil teriak, “Merdeka!”

Terkait dengan penyemaian sebelum-sebelumnya. Mungkin saya yang tidak sabaran. ketika dua minggu berlalu dan tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya menyemai biji baru. Ada baki-semai yang saya isi ulang begitu saja. Ada juga baki-semai atau polibag baru yang diisi media semai lama yang dipindahlokasikan saja. Terjadilah hal-hal lucu dan menarik. Pada kotak dimana saya sebar benih jagung, tumbuh tanaman. Senang karena akan punya pohon jagung berkurang, karena… dari daunnya, itu daun tanaman cabe. Ketika saya lihat catatan isi tray sebelum ini, ternyata memang disitu saya menaruh biji cabe. Belakangan saya baru menemukan informasi, bahwa rentang berkecambahnya biji cabe memang lebar.  Dari beberapa hari sampai 1 bulanan. Pantas saja baru tumbuh sekarang. Di tempat lain, tidak seberuntung ini. Tanaman cabe atau apapun yang tumbuh tidak sesuai catatan saya, tak bisa dideteksi dari varietas apa. Tampaknya, biji tanaman ini ikkut pindah ke wadah baru dari media semai di wadah lain. Senang saja, jadi nambah koleksi tanamannya.

20170528_115735_resized

ini salah satu tanaman “tidak jelas”

Tak hanya tanaman baru yang tumbuh seru. Cabe-cabe senior pun memberi kebahagiaan. Seminggu terakhir ini setiap hari ada saja buah cabe yang siap dipetik. Matang merah merona atau oranye segar. Pedas. Waluh yang saya tanam dari buah tua beli di pasar, juga tumbuh cepat. Pohon bunga matahari yang semula seperti hidup segan mati tak mau, 2 minggu terakhir tumbuh segar dan cepat membesar. Pohon mentimun, tumbuh cepat dan berbunga di setiap ketiak. Rumput Beijing sudah berdesak-desakan di pot, minta diurai. Pohon poh-pohan yang daun tuanya habis dimakan belalang, ternyata setelah itu malah tumbuh banyak sekali daun baru di  sepanjang batang-batangnya. Bahkan, pohon anggur yang saya habisi karena ingin saya ganti dengan tanaman sayuran rambat saja, tumbuh lagi dari sisa akarnya, dan…banyak!

Jadi semakin yakin, ini tasbih mereka, para tanaman, di kesucian Ramadan. Allahu Akbar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s