Rambatan, Kamu… Jaat!

Satu spot di halaman, sejak saya senang bertanam, dihuni kacang panjang. Ada kacang panjang biasa, ada kacang panjang merah. Generasi pertama, tanaman ini rajin berbuah tapi tidak istimewa. Jumlahnya biasa saja. Saat itu saya memang tidak banyak melakukan intervensi. Hanya menanam, menyiram, memupuk.

Karena itu, ketika generasi kedua tanaman rambat ini mulai ditanam dan tumbuh, saya mencoba memberi perlakuan lain. Berharap dapat menghasilkan buah jauh lebih banyak. Saya rajin memotong ujung batang. Berharap dari sana tumbuh cabang. Berulang hal ini saya lakukan. Semakin lama kan akan semakin banyak cabang. Artinya semakin banyak ujung. Ini berarti semakin banyak potensi menghasilkan buah.

Waktu demi waktu berlalu. Saya menemukan tanaman ini rimbun benar. Rambatan yang saya buat dari tiga batang besi yang ujungnya diikat, sedangkan tiga kakinya ditancapkan ke tanah, sudah tak menampung lagi. Tak hanya 1. Ada 3 pasangan ikatan. Dan si batang dengan ekspansif menguasai wilayah rambat. Bahkan ke rambatan sebelahnya, hak pohon cingcau dan timun.

Masalahnya cuma satu. Tak berbuah saja. Gemes betul. Sejauh batang merambat, hanya daun yang terlihat. Banyak daunpun untuk apa?

Makanya, wajar dong, saat mulai terlihat ada bakal bunga, saya sudah sangat antusias. Tapi, dari sekian banyak, hanya 1-2 yang jadi buah kacang panjang merah. Lumayanlah

Belakangan saya baru memperhatikan lagi pojok rambat.

Bunga dan bakal bunga bertaburan. Banyaaak pake banget. Senang sekali. Mulailah berpikir akan dimasak apa.

Hari demi hari. Daun demi daun disibak. Masih tak ditemukan butir-butir memanjang. Hijau maupun merah. Kemana mereka? Mengapa bunga tak jadi buah?

Tadi saya coba lagi sibak daun-daun rimbun itu. Siapa tahu buahnya tersembunyi di balik kerimbunan.

Ada aneka umur bunga. Ada yg baru berupa kuncup hijau kecil, ada yang mulai menjadi bunga berlapis berwarna ungu. Dan…tiba-tiba saya terhenyak kegirangan.

Muncul dari balik kerimbunan itu….jaat! Tega kau, batang, kau goda aku. Kuberharap kacang panjang, ternyata berbuah….kecipir. Alias jaat. 😀

 

*Jadi, terjadi kembali keseruan karena lupa menanam apa, hehe. Rambatan ini dibangun dari 2 batang pohon. Yang satu kacang panjang merah, yang satu lagi kecipir,
Saat saya googling, ternyata bunga kacang panjang dan bunga kecipir mirip. Awam seperti saya jadi melihatnya seperti sama saja. Makanya tidak terpikir bahwa itu berasal dari buah yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s