Tanaman Rambat, Kepadamu Aku Berguru

Pernah memperhatikan tanaman rambat? Akar dimana, ujung batang/cabang dimana. Terpisah jauuuh. Jauhnya ini bukan sekedar 1-2 meter, tapi bisa10-20 meter, bahkan lebih. Padahal, batangnya tak besar seperti tanaman berkayu yang bisa membawa makanan dari dalam tanah dalam jumlah banyak. Lantas bagaimana tanaman ini menghidupi ujung-ujung dirinya?

Pengalaman menunjukkan kepada saya keluarbiasaan sistem pengaturan gizi mereka. Selain dari makanan yang dibawa akar, gizi juga ditransfer dari daun-daun yang terdahulu. Daun yang lebih dekat ke akar kan muncul lebih dulu dibandingkan dengan daun berikutnya. Umur daun secara umum hampir sama, sehingga logis bahwa daun-daun awal akan mati lebih dulu. Ketika ada daun dan cabang yang mulai layu, pada saat itulah energi darinya ikut dialirkan menuju ujung bersama cairan yang meluncur dari akar ke sana. Ini juga sebab mengapa tanaman rambat minta air lebih banyak, media tanamnya relatif lebih cepat kering daripada tanaman lain dengan ukuran batang utama yang sama.

Mengapa saya menyimpulkan demikian? Sekali lagi, ini berdasarkan pengamatan dari pengalaman merawat beberapa jenis tanaman rambat secara bergantian. Bukan kesimpulan ilmiah berdasarkan referensi. Saya belum sempat belajar khusus tentang hal ini. Hanya pernah membaca satu artikel di dunia maya yang mendukung, sayangnya saat itu tidak saya simpan juga tautannya. Maafkan.

Beberapa tahun terakhir, saya memasang rambatan besi permanen di halaman depan. Hanya sekitar 2×2,5 m2, karena memang lahannya terbatas. Rangka ini saya pasang sedemikian sehingga tanaman bisa merambat tapi tidak menempel ke rumah, baik melalui dinding atau atap. Saya senang menanam tapi tidak suka rumah banyak semut. Salah satu potensi masuknya semut yang paling mengganggu saya, yaitu semut hitam, adalah tanaman yang menempel ke rumah. Selain rangka dari besi ini, saya juga membuat beberapa rangka kecil dari tiang-rambat-beli-jadi setinggi 2 meteran yang saya ikat per 3 batang seperti rangka tenda Indian.

Rangka persegi telah dirambati oleh beberapa tanaman. Lebih dari tiga tahun, pohon anggur menjadi penguasa tunggal. Dari dua batang pohon, rambatan selalu terisi penuh dan bertumpuk dengan cabang dan daun anggur. Selalu lebat dan berbuah. Jenis anggur yang tidak umum. Anggur kecil, lebih kecil dari kersen atau leunca. Kalau matang warnanya hitam, rasanya manis. Tampilannya seperti anggur pada umumnya, buah bersusun dalam satu tangkai. Karena saat menanam alasan saya lebih ke keinginan ada daun anggur yang bisa dipakai membuat nasi bungkus (sarma), saya tak memasalahkan buahnya. Sampai kemudian sekitar 1,5 tahun lalu saya ingin menanam sayuran. Anggur pun dikalahkan. Sejak itu, telah merambat beberapa tanaman dengan bentuk daun mirip, telah berganti-ganti bergelantungan mentimun, paria, dan emes (oyong besar).

Sementara pada rambatan-rambatan kaki tiga, lama bertengger kacang panjang, kacang panjang merah, binahong, dan cingcau. Saat ini sedang berjaya pohon kecipir. Ada juga buncis, mentimun, dan cingcau sedang belajar tumbuh. Setiap tanaman membawa cerita seru tersendiri. Tapi dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan kesamaan mereka sebagai tanaman rambat saja.

img_20180511_165257309331194.jpg

Jadi, saat rangka mulai dipenuhi cabang yang menjulur kesana kemari, dan tampak daun-daun menguning atau mengering di sana sini, tentu keinginan utama kita hanyalah merapikannya. Sebagaimana pakem perawatan tanaman, buanglah daun-daun yang mulai rusak dan mengering, karena itu membebani tanaman. Itu pula yang saya lakukan pada tanaman rambat. Daun-daun yang mulai kuning atau mengering dari cabang-cabang yang berseliweran dan bertumpuk itu dibuangi. Dan ini menyisakan batang kosong yang juga sudah tampak coklat seperti mengering. Daripada menuh-menuhin rangka, ya tarik saja batangnya, buang. Tanaman pun tampak lebih segar, hanya daun hijau yang bertengger.

 

Tapi…keesokan harinya tiba-tiba saja terlihat rangkaian daun melayu. Menjadi layu dan kemudian mati. Tak jarang di ujung batang yang mati ini sedang tumbuh buah. Sedih dan kesal sekali. Berulang upaya pembersihan ini membawa kematian satu cabang. Usut punya usut, semua ini terjadi karena ada batang yang terpotong, mengakibatkan cabang sisanya sampai ujung terputus hubungan dengan akar. Kadang, cabang ini masih panjaaang. Di titik ini saya sering menyesali keteledoran saya yang berulang.

Dari beberapa kali peristiwa ini saya belajar, bahwa jangan gegabah membuang yang belum masanya punah. Daun-daun yang masih proses mengering itu belum saatnya undur diri. Dia justru sedang berbakti, menyemangati dan membagi rezeki kepada generasi muda tanaman yang menjadi ujung tombak perjuangan. Halaaah… 😊

Transfer energi ini membuat di ujung lebih mudah menjadi buah. Batang-batang coklat tua melapuk itu, merupakan tulang punggung semua. Tak bisa hidup para daun muda tanpanya. Saling bergantung, saling menghargai, tiap posisi mempunyai peran tersendiri.

Sejak itu, saya semakin hati-hati. Membuang hanya daun-daun yang benar-benar telah kering. Proses yang butuh niat. Karena, dengan terbatasnya ruang rambat, cabang-cabang tanaman ini selalu dijaga agar tidak keluar arena, agar tidak menjulur ke atap ataupun dinding rumah. Ini berarti, cabang yang mulai menjuntai selalu dikembalikan ke rangka. Bertumpuk-tumpuklah mereka, dengan alur yang…gitu deh, kesana kemari bagai ular-naga-panjangnya yang dipaksa masuk ke kotak sulap. Untuk membuang daun kering yang biasanya terdapat di bagian bawah tumpukan cabang dan daun ini, saya peru mengangkat tumpukan itu. Jika ada batang yang terlihat mati dan kering, untuk membuangnya saya harus berusaha menelusuri dulu asal muasal dia dan kemana ujungnya menuju. Jika yakin cabang ini memang tak berujung daun, artinya benar-benar cabang mati baru saya berani buang. Begitupun, saya tak selalu lepas dari jebakan. Masih saja suka terulang terbuangnya satu cabang utama yang mengakibatkan kematian satu cabang sampai ujungnya. Namanya juga gemes, kadang gak sabaran main tarik ranting kering, tapi ternyata masih mempunyai turunan banyak dan sedang belajar berbuah pula..

img_20180406_104209~2-1161170028..jpg20171127_0852141783979013.jpg

Selain dari harmoni penyebaran gizi, sulur pada tanaman rambat menjadi pelajaran menarik lainnya bagi saya. Sulur ini saat baru muncul adalah sebuah benda lurus memanjang. Sampai kemudian dia menyentuh sesuatu, entah karena memang menyentuh, atau hanya karena tertiup angina. Jika dia betul menyentuh benda diam, maka sulur akan segera mengikatkan diri ke sana. Ikatan yang kuat, melingkar-lingkar seperti spiral. Jika sentuhannya hanya karena terkena efek angin berhembus, maka ujung sulur biasa melingkar dengan bentuk yang berbeda-beda.

Jangan anggap remeh ikatan sulur ini. Saya pernah menemukan sulur yang menancapkan diri pada daun. Iya, daun. Ada unsur trust di situ. Apa jadinya coba kalau sulur itu bertahan dan di ujung sana tumbuh buah oyong besar, misalnya.

20171207_143450598784109.jpg

Sulur yang gemulai dan tampak rapuh itu menjadi pengikat batang ke rambatan. Dan dia kuat. Ini terbukti pada posisi buah yang bergelantungan. Jika dari awal si batang sudah di posisi tersebut, saat berbuah dia akan tetap tergantung dengan aman dan nyaman. Tapi jika telanjur berbuah di posisi menjuntai dan kemudian dipindahkan ke atas rangka rambat, maka saya perlu membuat diam dengan mengikatnya. Jika dibiarkan menjuntai, aman, hanya kadang saya ingin memindahkan ke atas rangka agar lebih enak dilihat. Ini intervensi manusia yang harusnya tidak dilakukan hanya atas nama estetika.

Begitulah kurang lebih dua nasihat utama tanaman rambat kepada saya. Dari batang tua dan dari sulurnya. saya mencoba mencari makna. Karena Allah telah memention kita melalui QS Al An’am:141, yang artinya: “Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). …dst.”

Dan pada beberapa ayat lain, ketika Allah menyebutkan beberapa jenis tanaman dalam satu ayat, selalu tersebut contoh tanaman rambat. Misalnya, pada QS Ar Ra’d:4 ada disebut anggur selain tanaman lain dan kurma. Pada QS Al An’am:99 ada disebut anggur selain kurma, zaitun, dan delima. Pada QS An Nahl:11 ada disebut anggur selain zaitun dan kurma. Pada QS Al Baqarah:61 ada mentimun disebut selain sayur mayur, bawang putih, adas/kacang-kacangan, dan bawang merah. Pada As Safat:146 disebut labu. Wallahu’alam bisawab.

*Hanya sebuah upaya saya mencari makna.

img_20180511_16403275782402.jpg

img_20180406_101524-313666208.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s